Berita  

[Update] Lelucon Anti Korupsi Firli Bahuri di Aceh

Oleh: Sri Radjasa Chandra MBA*

KUNJUNGAN Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI Firli Bahuri ke Banda Aceh pada 7-10 November 2023 menyisakan lelucon anti korupsi yang amat menggelitik rasa keadilan.

Ketua KPK Firli Bahuri dalam sambutannya pada acara “Jelajah Negeri Bangun Anti Korupsi”, mengatakan Aceh dapat menjadi contoh menumbuh kembangkan budaya anti korupsi, menuju Indonesia bebas korupsi Tahun 2025.

Pernyataan Firli Bahuri di atas, jika diamati dari aspek psikologi adalah bentuk perilaku Gaslighting yang merupakan teknik manipulasi psikologis, agar tampak tetap berkuasa guna dapat mengontrol orang lain, pada gilirannya orang
ragu tentang penilaiannya sendiri terhadap Firli Bahuri.

Perilaku Gaslighting disebabkan oleh sikap tidak ingin disalahkan atau ada hal yang disembunyikan karena aib seperti tindak kejahatan. Ciri-ciri pelaku Gaslighting, patut diduga amat lekat pada pribadi Firli Bahuri diantaranya narsistik, arogan, sosiopat, manipulatif dan cenderung menawan serta innocent.

Road Show Bus KPK mungkin lebih tepat jika dianalogikan panggung stand up komedi, dengan actor comedian Firli Bahuri yang memerankan sebagai Ketua KPK, di hadapan penonton para siswa SMP/SMA dan kalangan ASN jajaran Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota yang datang karena perintah alias terpaksa.

Firli Bahuri dengan piawai memainkan perilaku manipulasi psikologis, untuk menutupi aibnya kemudian menjejali hal-hal positif tentang dirinya, sembari membangun image bahwa Firli
adalah korban.

Alih-alih untuk memberantas korupsi, kunjungan Firli Bahuri ke Aceh semata-mata dalam rangka membangun keraguan penilaian rakyat Aceh bahwa Firli tidak sepenuhnya buruk dalam penanganan korupsi di Aceh.

Ketua KPK Firli Bahuri lupa jika pernah menoreh sejarah kelabu penanganan kasus korupsi di Aceh, karena patut diduga Firli telah melakukan pelanggaran berat etik KPK.

Saat Firli berkunjung ke Aceh dan bertemu Gubernur Nova Iriansyah, ketika penanganan kasus korupsi di jajaran Pemerintah Aceh, menurut
keterangan Dewan Pengawas (Dewas) KPK sudah masuk pada tahapan penyelidikan.

Hasilnya sudah dapat diduga, tidak satupun kasus mega korupsi di jajaran Pemerintah Aceh yang diduga melibatkan Gubernur Nova Iriansyah diungkap KPK.

Pernyataan Firli Bahuri Aceh dapat menjadi contoh tumbuh kembangnya budaya anti korupsi, adalah pembohongan publik dan mencederai rasa keadilan rakyat Aceh, ketika realita hari ini, budaya korupsi di lingkungan Pemerintah Aceh semakin kokoh, bahkan penjarahan terhadap proyek APBA oleh para pemangku kebijakan di Aceh, terjadi di depan mata KPK dan institusi penegak hukum di Aceh.

Panggung Stand Up komedi dengan lakon “Firli Syndrome” hanya melahirkan badut-badut “anti pemberantasan korupsi” yang gemar mencicipi uang rakyat. Sesungguhnya Korupsi itu dari rakyat oleh rakyat untuk bedebah.

*Penulis adalah Pemerhati Aceh dan Pegiat Antikorupsi

Tinggalkan Balasan